Senin, 11 April 2016

[Struktur Posisional] PENYEGAR MUSIK INDONESIA: TULUS

20140324_Tulus_2

Siapa sih yang tidak kenal Tulus? Penyanyi pria asal Bandung yang populer sejak awal tahun 2012. Bila seseorang pertama kali mendengar lagu-lagunya Tulus, maka orang tersebut akan mengira jenis musik Tulus bergenre jazz. Namun, Tulus pernah bilang bahwa genre musiknya adalah eclectic. Mengapa demikian? karena electic bermakna luas. Ia pernah berkata, bahwa setiap lagunya memiliki cerita yang berbeda-beda dan setiap cerita itu ada pengiringnya yang cocoknya seperti apa. Hal itu sama seperti lagu-lagu Tulus, apa yang ingin dia ceritakan, bisa diiringi dengan musik yang sangat beragam dan berbeda-beda. Genre musik electic adalah genre yang asing bagi saya, namun justru itulah yang membuat saya sangat menikmati lagu-lagunya Tulus. Berbeda dari kebanyakan genre musik di Indonesia. Menurut saya, genre seperti inilah yang memajukan kualitas musik tanah air.


Dan alasan lain mengapa saya menyukai lagu-lagunya Tulus adalah karena liriknya yang cukup puitis. Dan entah mengapa, lagu tersebut sering terjadi di kehidupan nyata, sehingga sering menohok para pendengar.

Ya, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa lagu yang memiliki lirik puitis, bait-bait yang indah, akan mudah menyentuh pendengar musik dari usia remaja hingga dewasa. Namun, mayoritas penyuka lagu jenis ini adalah mereka yang memiliki jenjang pendidikan dan sosial yang menengah ke atas. Lagu Tulus yang menurut saya paling puitis sekaligus paling memberikan experience kepada pendengarnya adalah SEPATU. Mengapa? Karena setiap dari kita, pasti pernah mengalami tidak bisa bersatu dengan orang yang kita cintai, bukan?

Seperti lirik dari lagu Sepatu berikut ini :
Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu

Lirik lagu SEPATU seringkali membuat pendengarnya berkata, “ini lagu aku banget deh!”. Dan ya..... Tulus berhasil membuat lagu yang sebenarnya berkisah “sedih” namun dikemas secara unik (tidak seperti kebanyakan lagu-lagu galau Indonesia dengan musik yang mendayu-dayu dan menyayat hati), seolah-olah menyemangati pendengarnya untuk segera move on.

Jelas saja, dengan genre musik yang seperti ini, karir Tulus langsung melesat dan lagu-lagunya merajai chart musik Indonesia. Bahkan, album Tulus berada di urutan nomor 1 kategori album terbaik di majalah Rolling Stone! Tidak hanya itu, Rolling Stone juga menobatkannya sebagai Rookie of The Year 2013! wow! di sini bisa diketahui, bahwa penikmat musik Indonesia sudah jenuh dengan lagu galau yang mendayu-dayu, sehingga mereka mencari genre musik yang segar. Hal ini juga terjadi kepada penyanyi Raisa dan Isyana Sarasvati. Bisa dibilang, jenis musik Tulus, Raisa dan Isyana memiliki jenis yang agak sama. Mereka cepat melesat karena membawakan musik yang segar dan unik.

Intinya, sudah hampir dua setengah tahun ini saya tidak pernah ada bosannya untuk mendengarkan lagu-lagunya mas Tulus. Contohnya seperti, “Teman Hidup”, “Sewindu”, “Gajah”, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, “Sepatu”. Tapi di antara lagu-lagu yang saya sebutkan, lagu yang paling unik dan kreatif adalah “Gajah”. Lagu tersebut diciptakan karena Tulus memiliki tubuh yang besar sehingga teman-teman masa kecilnya sering memanggilnya gajah. Namun ia tidak menyukai dipanggil seperti itu. Jadilah Tulus membuat lagu “Gajah”, kreatif banget kan?


Menurut saya, lagu Tulus sangat pas didengar ketika sedang dalam perjalanan atau sedang mengerjakan sesuatu. Lambat laun saya menjadi rileks namun bersemangat. Tugas-tugas kuliah saya juga tidak menjadi beban. Ini serius. Saya udah sering nyoba, lho!

2 komentar:

  1. kok ga lagune KCB kaa?? jarene apik wkwk

    blogwalking http://rara-liskrafb.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm entahlah lagi kepikiran mas Tulus wkwkwk

      Hapus