Sabtu, 26 Maret 2016

Sinopsis Cerita: DI BAWAH LANGIT DEIR AL-BASRA

Deir  Al-Basra, 1924

Deir Al-Basra adalah daerah perbatasan antara Bosphorus dan Anatopia. Dikelilingi oleh berbagai selat dan laut lepas. Di daerah ini, sering terlihat ratusan burung camar yang terbang rendah di garis horizon, berlomba  dengan riak air laut dan perahu-perahu kecil yang berlayar  tenang.  Laut pun nampak berkilau karena pantulan sinar matahari, dan juga pohon yang seringkali menari kala angin menerpa. Pagi itu, selepas sholat subuh, terdengar lantunan surat Ar-Rahman dari dalam surau. Rupanya, akan diselenggarakan akad nikah tidak lama lagi. Nampak jelas pengantian pria, Abyaz Issa, melantunkan Ar-Rahman yang sudah ia hafal sejak usia 6 tahun, dengan suara merdu dan penuh konsentrasi. Tak lama kemudian, ijab qobul dimulai dan terlaksana dengan lancar. Suasana haru bahagia menyelimuti surau. Begitu pula di rumah pengantin wanita, Fatima Adawiya, yang tak jauh dari lokasi surau, seisi rumah berucap syukur bersahut-sahutan begitu mendengar bahwa ijab qobul terlaksana dengan lancar.

Tiba-tiba langit bergemuruh. Tanah bergoncang hebat, membuat jendela-jendela dan benda yang tergantung jatuh pecah. Dumm!! suara keras yang sungguh mengerikan, suara yang belum pernah terdengar sama sekali di Deir Al-Basra. Penduduk Deir Al-Basra berhamburan keluar. Mereka tercengang dengan mulut menganga, tak percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan. Nampak ratusan pesawat perang dan helikopter memenuhi langit, seolah hampir tak menyisakan tempat bagi sinar matahari. Dumm!! suara susulan, namun terdengar lebih keras. Penduduk Deir Al-Basra mulai ricuh dan berlari mencari tempat berlindung. Mereka membawa serta keluarga dan anak-anak mereka untuk berlindung dari rudal. Suasana Deir Al-Basra yang tadinya indah bagaikan simfoni, seketika berubah menjadi mencekam. Abyaz, ia berlari-lari mencari istrinya, Fatima. Ketika Abyaz dan Fatima hampir bertemu, tanah bergoncang kembali. Namun, kali ini bukan karena dentuman rudal. Melainkan karena gempa bumi. Begitulah cara keduanya dipisahkan saat itu.




Deir Al-Basra, 1933

Deir Al-Basra menjadi satu-satunya perbatasan Bosphorus yang terbebas dari penjajah bangsa Asros. Entah mengapa, sembilan tahun lamanya menjajah, bangsa Asros tetap tidak bisa menakhlukkan Deir Al-Basra. Abyaz menjadi pemimpin pasukan Deir Al-Basra, ia menjadi begitu kuat, tangguh dan ditakuti oleh lawannya. Abyaz bagaikan singa di siang hari, namun ia begitu rapuh ketika malam hari. Ia selalu menangis ketika sedang menghadap Tuhan-nya, mengharap kemenangan mutlak atas bangsa Asros dan meminta agar ingatannya dikembalikan. Abyaz kehilangan ingatannya setelah kepalanya terbentur batu ketika teradi gempa bumi sembilan tahun yang lalu. Saat itu, Abyaz hanya bisa mengingat nama dan agamanya.

Ketika Abyaz terluka terkena anak panah dari bangsa Asros, sesosok perempuan dengan berwajah teduh menghampirinya. Beberapa hari ini, Abyaz sering melihat perempuan itu. Dan kemana pun perempuan itu pergi, ia selalu membawa kotak obat dan di temani oleh anak perempuan, bernama Aisha. Tanpa basa-basi, perempuan tersebut mengobati luka Abyaz. Ketika perempuan itu hendak selesai mengobati, Abyaz bertanya kepada perempuan itu siapa namanya. Dengan berlinang air mata, perempuan itu menjawab bahwa ia bernama Fatima Adawiya, istri dari Abyaz Issa.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, Abyaz menemukan ingatannya kembali. Ia bersatu lagi dengan Fatima Adawiya. Namun di tengah kebahagiaan mereka yang baru sebentar itu, pemimpin bangsa Asros, Alexius, menggempur Deir Al-Basra habis-habisan. (Mengapa Alexius begitu ingin menghabisi Deir Al-Basra?) Aisha, anak perempuan yang sering terlihat bersama Fatima, merupakan cucu dari Alexius. Aisha ditemukan Fatima ketika gempa bumi sembilan tahun yang lalu di dalam Goa yang tak jauh dari Deir Al-Basra. Ketika itu, Aisha masih berusia 3 tahun. Rupanya, Alexius menyembunyikan cucunya di dalam Goa. Ketika Aisha semakin besar, Alexius mendapati bahwa cucunya itu memeluk Islam. Ia semakin kebakaran jenggot karenanya dan sudah tak tahan lagi untuk mengambil cucunya kembali. Namun, keputusan ada di tangan Aisha, ia memilih untuk berada di agamanya yang sekarang dan tidak mau kembali kepada kakeknya.

Perang antara bangsa Asros dan pasukan Deir Al-Basra di bawah pimpinan Abyaz pun berlangsung selama 52 hari. Saat perang, Abyaz kehilangan banyak sekali pasukannya yang syahid. Sempat putus asa, namun Abyaz dikuatkan oleh rekan-rekannya dan terutama Fatima. Ia terus menerus mengingatkan bahwa ketika tanah kaum muslimin dijajah, maka sudah kewajiban untuk memerangi penjajah. Adalah dosa besar, ketika pemimpin tersebut memilih mundur dari perang, kecuali kematian menimpanya. Mendengar nasihat tersebut, Abyaz menghentikan perang selama 2 hari. Ia menyuruh seluruh pasukannya untuk beristirahat guna mendekatkan diri kepada Allah. Mereka berdzikir, puasa, sholat malam, sholat sunnah dan membaca Al-Qur'an. Abyaz sadar, sebesar apapun kekuatan dan usahanya dalam perang ini, tidak akan ada kemenangan bila Allah tidak menghendaki mereka untuk memenangkan peperangan ini.

Suatu subuh, bangsa Asros tercengang kaget, karena yang dilihatnya kali ini bukan pemandangan seperti biasanya di perbatasan antara Bosphorus dan Anatolia. Mereka melihat, kaum muslimin sedang sholat subuh berjamaah dipimpin oleh pemimpin mereka, Abyaz Issa. Pekikan takbir dan lafadz "amin" yang menggema, sejenak membuat bangsa Asros merinding. Seusai sholat, perang di antara mereka pun pecah. Hari itu, setelah 9 tahun Deir Al-Basra diteror oleh Alexius, akhirnya Deir Al-Basra benar-benar menang secara mutlak. Alexius mati di tangan Abyaz Issa sendiri. Kini, simfoni indah Deir Al-Basra terdengar kembali setelah 9 tahun lamanya.

- End -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar