Kamis, 19 Mei 2016

Persuasif: Masa Anak-anak Hanyalah Sebuah Nostalgia

                               

Rasanya sudah menjadi hal biasa melihat anak-anak yang sedang bermain. Anak-anak suka bermain petak umpet, gobak sodor, kotak pos, lompat tali, kelereng dan permainan-permainan yang lain. Bahkan sampai hal kecil sekalipun, anak-anak akan memainkannya bila itu dianggapnya menarik. Seperti menjadikan tirai jendela sebagai gaun putri cantik, kemudian berputar-putar di bawahnya, mengejar bayangannya sendiri, hingga mengobrol di depan kipas yang angin yang sedang berputar. Tapi, itu dulu. Ya, kini semua kebiasaan lucu itu hanya menjadi bahan nostalgia bagi kita generasi abad 20 terakhir. 
Namun, saya kira masih ada kesamaan kegiatan untuk mengisi waktu luang antara masa anak-anak jaman dahulu dan jaman sekarang. Yaitu menonton televisi. Dulu, anak-anak sangat menanti-nanti serial doraemon, crayon shin-chan, chibi maruko-chan dan power rangers setiap akhir pekan pagi. Sekarang, anak-anak sangat antusias ketika menonton dahsyat, fesbukers, sinetron anak jalanan, dan 7 manusia harimau di setiap sore – malam hari. Padahal, waktu tersebut seharusnya digunakan istirahat dan belajar. Beda tayangan yang ditonton, berbeda pula perilaku dan pemahaman anak-anak. Ketika anak-anak generasi akhir abad 20 berpaham anak-anak adalah masa bermain dan ekplorasi, maka anak-anak generasi abad 21 berpaham masa mereka adalah masa eksistensi diri dan beradegan dewasa lebih cepat.

Hal ini mempengaruhi di keseharian anak-anak jaman sekarang. Di mana mereka membentuk suatu kelompok, kemudian membully temannya yang dianggapnya lemah (klik di sini). Berpacaran pun merupakan hal yang biasa ketika masih SD (klik di sini). Begitu juga dengan tawuran antara murid sekolah dasar (klik di sini)



Dari situ, peran orang tua menjadi penting demi mengawasi tayangan apa saja yang akan dikonsumsi anak-anak mereka. Di lain pihak, KPI perlu tegas mengevaluasi tayangan-tayangan yang tidak mendidik dan hanya mengejar rating. Bagaimana caranya memilah dan memilih tayangan yang bukan sekedar meraih popularitas saja tapi juga berkualitas. Seharusnya KPI bukan malah melarang serial satria garuda bima x, yang jelas-jelas sebagai hiburan produksi lokal untuk anak-anak. Tetapi tetap membiarkan tayangan tidak bermutu dan mengejar rating.

Namun, di sini bukan sepenuhnya salah pihak PH (Production House) dan KPI. Sebenarnya masyarakatlah yang menentukan tayangan ini akan menjadi populer atau tidak. Inilah yang menjadikan tayangan sinetron selalu mendapatkan rating tinggi. Ketahuan kan selera tayangan masyarakat kita seperti apa?


Sungguh miris mengetahui kondisi ini. Mengingat para orang tua yang berpesan kepada anak-anaknya bahwa merokok dan berkelahi itu tidak baik, namun malah membiarkan mereka menonton acara televisi dengan banyak adegan tersebut. Justru ini yang membuat pesan orang tua menjadi sia-sia kepada anak mereka.

Sudah saatnya masyarakat Indonesia bisa memilih antara tayangan yang harus dipertahankan dan tayangan yang harus diabaikan. Karena selain dari orang tua dan teman, tingkah laku anak-anak juga dipengaruhi oleh media.

referensi:
http://news.liputan6.com/read/390713/kini-tawuran-merambah-pelajar-sd

gambar:
http://www.bebeksayfasi.com/portal/uploads/2016/03/nightmares.jpg
http://ayosebarkan.com/wp-content/uploads/2015/05/22-Balon-Tiup.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar