Rasanya sudah menjadi hal biasa melihat anak-anak yang sedang
bermain. Anak-anak suka bermain petak umpet, gobak sodor, kotak pos, lompat tali,
kelereng dan permainan-permainan yang lain. Bahkan sampai hal kecil sekalipun,
anak-anak akan memainkannya bila itu dianggapnya menarik. Seperti menjadikan
tirai jendela sebagai gaun putri cantik, kemudian berputar-putar di bawahnya, mengejar
bayangannya sendiri, hingga mengobrol di depan kipas yang angin yang sedang
berputar. Tapi, itu dulu. Ya, kini semua kebiasaan lucu itu hanya menjadi bahan
nostalgia bagi kita generasi abad 20 terakhir.
Namun, saya kira masih ada kesamaan kegiatan untuk mengisi waktu luang antara
masa anak-anak jaman dahulu dan jaman sekarang. Yaitu menonton televisi. Dulu,
anak-anak sangat menanti-nanti serial doraemon, crayon shin-chan, chibi maruko-chan
dan power rangers setiap akhir pekan pagi. Sekarang, anak-anak sangat antusias
ketika menonton dahsyat, fesbukers, sinetron anak jalanan, dan 7 manusia
harimau di setiap sore – malam hari. Padahal, waktu tersebut seharusnya
digunakan istirahat dan belajar. Beda tayangan yang ditonton, berbeda pula
perilaku dan pemahaman anak-anak. Ketika anak-anak generasi akhir abad 20
berpaham anak-anak adalah masa bermain dan ekplorasi, maka anak-anak generasi abad
21 berpaham masa mereka adalah masa eksistensi diri dan beradegan dewasa lebih
cepat.
Hal ini mempengaruhi di keseharian anak-anak jaman sekarang. Di mana mereka membentuk
suatu kelompok, kemudian membully temannya yang dianggapnya lemah (klik di sini). Berpacaran pun
merupakan hal yang biasa ketika masih SD (klik di sini). Begitu juga dengan tawuran antara
murid sekolah dasar (klik di sini)
Dari situ, peran orang tua menjadi penting demi mengawasi
tayangan apa saja yang akan dikonsumsi anak-anak mereka. Di lain pihak, KPI
perlu tegas mengevaluasi tayangan-tayangan yang tidak mendidik dan hanya
mengejar rating. Bagaimana caranya memilah dan memilih tayangan yang bukan
sekedar meraih popularitas saja tapi juga berkualitas. Seharusnya
KPI bukan malah melarang serial satria garuda bima x, yang jelas-jelas sebagai
hiburan produksi lokal untuk anak-anak. Tetapi tetap membiarkan tayangan tidak
bermutu dan mengejar rating.
Namun, di sini bukan sepenuhnya salah pihak PH (Production House) dan KPI. Sebenarnya masyarakatlah yang menentukan tayangan ini akan menjadi populer atau tidak. Inilah yang menjadikan tayangan sinetron selalu mendapatkan rating tinggi. Ketahuan kan selera tayangan masyarakat kita seperti apa?
Sungguh miris mengetahui kondisi ini. Mengingat para orang
tua yang berpesan kepada anak-anaknya bahwa merokok dan berkelahi itu tidak baik,
namun malah membiarkan mereka menonton acara televisi dengan banyak adegan
tersebut. Justru ini yang membuat pesan orang tua menjadi sia-sia kepada anak
mereka.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia bisa memilih antara
tayangan yang harus dipertahankan dan tayangan yang harus diabaikan. Karena selain
dari orang tua dan teman, tingkah laku anak-anak juga dipengaruhi oleh media.
referensi:
http://news.liputan6.com/read/390713/kini-tawuran-merambah-pelajar-sd
http://news.liputan6.com/read/390713/kini-tawuran-merambah-pelajar-sd
gambar:
http://www.bebeksayfasi.com/portal/uploads/2016/03/nightmares.jpg
http://ayosebarkan.com/wp-content/uploads/2015/05/22-Balon-Tiup.jpg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar