Deir Al-Basra, 1924
Deir Al-Basra adalah daerah
perbatasan antara Bosphorus dan Anatopia. Dikelilingi oleh berbagai selat dan
laut lepas. Di daerah ini, sering terlihat ratusan burung camar yang terbang
rendah di garis horizon, berlomba dengan
riak air laut dan perahu-perahu kecil yang berlayar tenang.
Laut pun nampak berkilau karena pantulan sinar matahari, dan juga pohon
yang seringkali menari kala angin menerpa. Pagi itu, selepas sholat subuh,
terdengar lantunan surat Ar-Rahman dari dalam surau. Rupanya, akan
diselenggarakan akad nikah tidak lama lagi. Nampak jelas pengantian pria, Abyaz
Issa, melantunkan Ar-Rahman yang sudah ia hafal sejak usia 6 tahun, dengan
suara merdu dan penuh konsentrasi. Tak lama kemudian, ijab qobul dimulai dan
terlaksana dengan lancar. Suasana haru bahagia menyelimuti surau. Begitu pula
di rumah pengantin wanita, Fatima Adawiya, yang tak jauh dari lokasi surau, seisi
rumah berucap syukur bersahut-sahutan begitu mendengar bahwa ijab qobul
terlaksana dengan lancar.
Tiba-tiba langit bergemuruh.
Tanah bergoncang hebat, membuat jendela-jendela dan benda yang tergantung jatuh
pecah. Dumm!! suara keras yang
sungguh mengerikan, suara yang belum pernah terdengar sama sekali di Deir Al-Basra.
Penduduk Deir Al-Basra berhamburan keluar. Mereka tercengang dengan mulut
menganga, tak percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan. Nampak ratusan
pesawat perang dan helikopter memenuhi langit, seolah hampir tak menyisakan
tempat bagi sinar matahari. Dumm!! suara
susulan, namun terdengar lebih keras. Penduduk Deir Al-Basra mulai ricuh dan
berlari mencari tempat berlindung. Mereka membawa serta keluarga dan anak-anak
mereka untuk berlindung dari rudal. Suasana Deir Al-Basra yang tadinya indah bagaikan
simfoni, seketika berubah menjadi mencekam. Abyaz, ia berlari-lari mencari
istrinya, Fatima. Ketika Abyaz dan Fatima hampir bertemu, tanah bergoncang
kembali. Namun, kali ini bukan karena dentuman rudal. Melainkan karena gempa
bumi. Begitulah cara keduanya dipisahkan saat itu.
