
Directed by Majid Majidi
Produced by Amir Esfandiari, Mohammad Esfandiari
Produced by Amir Esfandiari, Mohammad Esfandiari
Cast :
1. Amir Farrokh Hashemian sebagai Ali
2. Bahare Seddiqi sebagai Zahra
3. Reza Naji sebagai Ayah
4. Fereshteh Sarabandi sebagai Ibu
5. Dariush Mokhtari sebagai Guru Ali
6. Nafise Jafar-Mohammadi sebagai Roya
7. Mohammed-Hasan Hosseinian sebagai Ayah Roya
8. Mohammed-Hossein Shahidi sebagai Alireza
9. Kazem Asqarpoor sebagai Kakek
10. Christopher Maleki sebagai penjual garam
Synopsis :
Ali Mandegar (Amir Farrokh) tidak sengaja menghilangkan sepatu adiknya, Zahra (Bahare Seddiqi), di pasar. Padahal, sepatu tersebut adalah satu-satunya milik Zahra untuk digunakan berangkat sekolah. Begitu pun Ali, hanya memiliki seapasang sepatu untuk sekolah. Keduanya memutuskan untuk berbagi sepatu milik Ali: Zahra memakainya ke sekolah di pagi hari, kemudian mengembalikannya sepulang sekolah kepada Ali. Sehingga, Ali tetap bisa menghadiri sekolahnya di siang hari.
Review :
Film ini merupakan karya yang indah dan sangat menyentuh tanpa adanya adegan-adegan yang tidak pantas, kekerasan, dan alur yang rumit seperti mayoritas film barat. Jujur saja, film ini memiliki alur yang sangat simpel (intro-masalah-solusi) namun pesan dan kesan ceritanya mampu membekas di hati. “Children of Heaven” mengisahkan tentang kakak beradik yang masih kecil dari keluarga miskin, yang berusaha untuk menyelesaikan permasalahan mereka sendiri, dikarenakan kondisi ayahnya yang bekerja seadanya dan ibunya yang sakit. Anak sekecil itu, mampu memahami kondisi perekonomian keluarga mereka.
Menurut saya, film ini terlihat sangat apik adalah karena pemain utamanya yang masih anak-anak. Mengapa? suatu hal yang baik, sesimpel apapun itu, tetapi dilakukan dengan tulus oleh anak-anak, hati mana yang tidak terenyuh melihatnya?
Menurut saya, film ini terlihat sangat apik adalah karena pemain utamanya yang masih anak-anak. Mengapa? suatu hal yang baik, sesimpel apapun itu, tetapi dilakukan dengan tulus oleh anak-anak, hati mana yang tidak terenyuh melihatnya?
Dan juga, Majid Majidi, sang sutradara, sangat teliti dengan hal-hal sederhana yang biasa dilakukan kebanyakan anak kecil, namun Mr. Majidi mampu mengemasnya secara sempurna indahnya. Contohnya seperti scene di mana Ali dan Zahra bermain gelembung busa saat mencuci sepatu. Hal tersebut sangat sederhana, namun dapat diperankan dengan perasaan bahagia yang terlihat "realis" oleh aktor dan aktris cilik berbakat itu. Akhirnya penonton dibuat merasakan bahwa keceriaan juga bisa didapatkan dari hal sesederhana itu.
Di dalam “Children of Heaven”, kehidupan sosial di
Tehran didokumentasikan secara detail setiap harinya, mulai dari tidak
tersedianya kentang untuk keluarga miskin seperti keluarga Ali, hingga pakaian
wol yang diurai agar bisa dirajut kembali untuk dijadikan sesuatu yang lain,
bahasa mudahnya, pakaian wol tersebut didaur ulang. Mencari biaya hidup juga sangat
sulit bagi keluarga yang tinggal di kota bagian selatan, lingkungan yang sangat
kontras bila dibandingkan kota Tehran bagian utara yang kehidupan masyarakatnya elit.
"Children of Heaven" mampu mengemas kehidupan masyarakat muslim di Iran secara rapi dan terlihat realis. Mulai dari cara keluarga Ali yang mempersiapkan gula untuk melayani masjid dan tidak mengambil keuntungan sama sekali darinya, Ayah Ali benar-benar menjaga amanah masjid tersebut. Cara ketika Zahra dan Ali membantu merawat tetangga lansia, seorang laki-laki separuh baya yang sigap menolong Zahra ketika sepatunya terjatuh di selokan air, laki-laki yang mengantar Ayah Roya yang buta ke sebuah toko sepatu. Meskipun momen-momen sederhana tersebut menggunakan latar kemiskinan di area yang kumuh, namun entah mengapa Mr. Majidi mampu membangun esensi cerita tersebut menjadi terasa indah.

Cerita film yang seperti ini, memang sudah menjadi style dari sutradaranya, Majid Majidi, ketika menggarap sebuah film. Selalu penuh inspirasi yang akhirnya mengimbas ke pesan moral dan sosial yang mendalam ke penontonnya. Sama seperti ketika Mr. Majidi menggarap film Bumm Bumm Bole, The Color of Paradise, dan Baran.
Sayangnya, kekurangan dari film ini terletak pada sudut pengambilan gambar. Rasanya, pengambilan gambar dari awal sampai akhir hanya menggunakan sudut pandang manusia. Adapun menggunakan sudut pandang katak, hanya terdapat saat Ali dan Ayahnya memandangi gedung-gedung di Kota Tehran bagian utara.
Akhir kata, "Children of Heaven" adalah film yang benar-benar indah dan sangat layak ditonton oleh semua umur. Saya sendiri sangat tersentuh oleh akhlaq Ali dan Zahra dari awal hingga akhir.
Rate: 8/10
Cerita film yang seperti ini, memang sudah menjadi style dari sutradaranya, Majid Majidi, ketika menggarap sebuah film. Selalu penuh inspirasi yang akhirnya mengimbas ke pesan moral dan sosial yang mendalam ke penontonnya. Sama seperti ketika Mr. Majidi menggarap film Bumm Bumm Bole, The Color of Paradise, dan Baran.
Sayangnya, kekurangan dari film ini terletak pada sudut pengambilan gambar. Rasanya, pengambilan gambar dari awal sampai akhir hanya menggunakan sudut pandang manusia. Adapun menggunakan sudut pandang katak, hanya terdapat saat Ali dan Ayahnya memandangi gedung-gedung di Kota Tehran bagian utara.
Akhir kata, "Children of Heaven" adalah film yang benar-benar indah dan sangat layak ditonton oleh semua umur. Saya sendiri sangat tersentuh oleh akhlaq Ali dan Zahra dari awal hingga akhir.
Rate: 8/10


until now i like it
BalasHapus